Berpikir : Hidup tanpa warna ?

Warna? Seberapa pentingkah sebuah warna? Bisakah kita hidup tanpa warna? Bayangkan! Bahkan bayanganmu hanya sampai hitam dan putih. Bukankah itu juga sebuah warna, hitam dan putih?

Di sini sangat gelap tanpa warna? Bukankah gelap juga berwarna, perpaduan konsentrasi hitam dan putih?

Gambarnya putih bersih tanpa warna? Lantas di sebut apakah putih itu.

Pernahkah kita berpkir dari mana warna-warna itu muncul?

Pernahkah kita memintanya? Bisakah anda hidup tanpa warna?

Pernahkah anda memikirkannya? Atau pernahkah anda berpkir bagaimana rasanya jika kita buta? Bahkan orang buta masih melihat warna hitam…adakah siksaan yang melebihi kebutaan? Dunia tanpa warna…

Sejenak kita harus sering memikirkan detail-detail di dunia ini… Karena otaklah yang di anugerahkan kepada kita,manusia bukan hewan. Dan bukankah fungsi sebuah otak untuk berpikir? Disini kita tidak untuk mencari ilmu … Disini kita tidak untuk belajar, Ilmu adalah turunan dari belajar, dan belajar adalah turunan dari berpikir. Sekarang mari sejenak kita kembali  ke majelis fikir.

Kembali kepada warna … Mengacu kepada karya Harun Yahya, bahwa proses pembentukan warna kurang lebih seperti di bawah ini, dan proses ini harus terjadi dan berurutan untuk mewujudkan sebuah warna.

  • Adanya cahaya, cahaya matahari yang memancar ke bumi dengan panjang gelombang  tertentu untuk menghasilkan warna, bagian ini di sebut ” cahaya tampak”. Dan masih banyak sebnarnya cahaya yang di pancarkan matahari. Jika di bandingkan dengan “cahaya tampak” adalah satu berbanding

1025.

  • Atmosfir, dimana berfungsi sebagai penyaring. Bisa di bayangkan jika cahaya yang dapat merusak mata kita tidak tersaring dengan bagi di Atmosfer, kita pasti kehilangan fungsi mata kita.

    warna
    Jika dunia tanpa warna seperti apakah dunia ini
  • Objek di bumi harus memantulkan cahaya bukan menyerap cahaya.
  • Indera penglihatan, mata.
  • Sinar yang melewati lensa dan lapisan matakemudian di ubah menjadi impuls-impuls syaraf di retina, kemudian di kirim di otak bagian pusat penglihatan
  • Langkah terakhir adalah penafsiran sinyal-sinyal listrik yang masuk ke otak, sehingga terwujudlah sebuah warna.

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan

menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? (Q.S. Qaaf: 6)

Seperti telah terlihat, untuk pembentukan sebuah warna, diperlukan suatu urutan proses-proses yang sangat detail dan saling tergantung satu sama lain.

Tanpa adanya kesetimbangan ini, tidak bisa tidak, kita akan berada dalam suatu dunia gelap yang kabur, bukannya ada dalam dunia penuh warna-warni yang jelas, dan bahkan mungkin akan kehilangan kemampuan untuk melihat.

Maka masihkah dunia terjadi secara kebetulan ? Tanpa campur tangan Sang Pencipta? Bisakah sebuahkebetulan menyusun kerumitan-kerumitan setiap keadaan dan kejadian sekecil apapun didunia ini?

Masihkah berlaku teori kebetulan? Atau lebih tepatnya masihkah bisa berpikir bagi orang yang mengakuinya? Jika tidak berpikir masihkah bisa di sebut sebagai manusia?

Yah mungkin memang monyetlah yang mencetuskan monyet-monyet lain.

Salam …

Dan teruslah berpikir tentang apapun di sampingmu …

Iklan
Berpikir : Hidup tanpa warna ?

2 pemikiran pada “Berpikir : Hidup tanpa warna ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s