Benarkah Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ??

rilnxz6rtPada kali ini saya akan berceloteh tentang pendidikan. Sudah jadi kodrat makhluk hidup untuk melakukan pendidikan. Seperti pada suatu sore ketika saya sedang asik duduk di pinggir lapangan, karena kebetulan memang rumahku tepat berada di belakang gawang lapangan sepak bola di desaku. Waktu aku masih berusia sekitar 6 tahunan, sungguh masih berupa anak kecil yang polos.

“ Ayah, lihat ayam itu. Kenapa kelihatannya si induk sedang menyuruh anaknya untuk mematuk-matukkan kepalanya ke tanah ? “ seruku kepada Ayah yang duduk di sampingku. Karena waktu itu aku melihat pemandangan yang aneh tapi asik untuk diperhatikan, sang induk ayam mencakar-cakarkan kakinya di tanah dan diikuti gerakan mematuk-matuk. Setelah itu si induk melirik ke anak-anaknya seakan-akan berkata “ Ayo nak, sekarang giliranmu.“

“ Oh itu, si induk sedang mengajari anak-anaknya cara mencari makan seekor ayam,” jawab Ayah sambil tersenyum melihat kepolosanku.

Sejak saat itu aku berkesimpulan bahwa yang sekolah bukan cuma Manusia, hewan – pun juga sekolah … oh bukan, tetapi sekolah itu bukan hanya ada di kelas tapi di manapun adalah sekolahan bagi kehidupan kita. Setelah selang beberapa tahun hingga saya kuliah, setelah tertarik dengan kisah para pembelajar zaman dahulu seperti ilmuwan, penemu, dan seniman. Bagaimana mereka menghasilkan berbagai teori dan karya yang merubah budaya dan kehidupan manusia menuju apa yang kita sebut modern. Sejak saat itu Anda saya diizinkan untuk mengeluarkan sebuah Quote maka akan seperti ini bunyinya :

“ Yang menjadi permasalahan seharusnya bukanlah lagi pada bagaimana hasil pendidikan tetapi bagaimana menggunakannya “

Jika Anda mampu menangkap apa maksud dari kalimat di atas sebagaimana saya memahaminya, maka tentulah Anda sehati dengan saya. Walaupun Anda melihat dari sudut pandang yang berbeda dan bahkan punya pemahaman yang bertolak belakan dengan pemahaman saya, Anda tetap sehati dengan Saya.

Maksud dari kata – kata yang hampir indah saya rangkai itu adalah seperti ini. Seharusnya pendidikan tidak lagi mempermasalahkan apakah murid sudah memahami bab mekanika pada pelajaran fisika, tetapi sudah pada pertanyaan apakah setiap murid sudah mampu memanfaatkan isi dari pelajaran itu untuk kehidupan mereka, entah mampu membuat sebuah alat dengan prinsip mekanik untuk membantu kehidupan, atau mampu membuat perhitungan mekanis untuk mempermudah pekerjaan mereka dan lain sebagainya. Artinya jika anda mempelajari bab mekanik maka hasil dari pendidikan itu adalah Anda sudah menguasai seluruh prinsip dari pelajaran tersebut, hal ini harus berlaku untuk setiap siswa setiap orang yang ada di kelas tersebut. Itu baru dinamakan pendidikan.

Suatu ketika Anda memperkerjakan seorang tukang untuk mengecat rumah, tukang tersebut datang untuk bekerja namun dengan santai dan ogah-ogahan dia memoleskan kuas cat seenaknya di dinding. Hasilnya tidak rata, dia hanya mengecat di tempat-tempat yang ia suakai. Dia datang setiap hari hingga masa hari perjanjian kerja usai. Bisakah itu disebut mengecat ? ah alih-alih dia akan disebut sebagai seniman edan dan gak waras. Begitu pula jika Anda adalah seorang guru, datang ke kelas untuk membacakan atau menyampaikan pelajaran. Hari ini bab ini, besok bab itu, yang Anda kejar adalah penyelesaian bab pelajaran ? berbedakah Anda sebagai tukang dongeng yang di bayar untuk membacakan sebuah dongeng satu buku ? Bukankah guru itu mendidik ? Saya tahu mungkin beberapa dari Anda akan nyeletuk, emangya gak susah apa mendidik setiap Anak di kelas agar memahami setiap pelajaran. Belum lagi ada Anak-anak super genius yang tidak bisa memahami suatu hal walaupun beribu kata di kerahkan untuk menjelaskannya ? Nah disitulah kenapa ada istilah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Karena jika Anda benar-benar melakukan pekerjaan Anda sampai selasai Anda mendapatkan bayaran yang nilainya bahkan tidaklebih dari 0,1 % dari jasa yang Anda berikan, sekali lagi jika Anda menyelesaikannya. Itulah guru yang sesungguhnya, guru yang dimuliakan dalam wejangan-wejangan orang tua terdahulu. Jika tidak ? maka tidak ada ubahnya seperti tukang cat dan pendongeng diatas, bahkan apa yang di tanggung oleh tukang cat lebih besar dari pada seorang guru yang mengajar seenak hatinya. Mungkin masih ada yang menjawab, tapi kita kan tetap memberikan ilmu,sedangkan ilmu adalah hal yang mulia dan suci. Ah, apakah itu ilmu Anda sendiri ? coba pikirkan bisa enggak seorang murid mempelajari fisika hanya melalui internet bukan guru ? tentu bisa. Adanya guru adalah untuk menyentuh sisi kemanuasian para murid, kasih sayang, seseorang yang menjadi panutan dan inspirasi. Itulah jasanya yang tak ternilai. Masihkah akan ada guru-guru yang berleha-leha dan mengajar sekehendak hatinya ?

Jika guru yang menjadi guru karena keinginan hatinya, bukan karena gaji PNS. Jika semua harapan diatas dapat terwujud, maka selanjutnya kita akan bergerak maju dengan berbagai pertanyaan apa yang bakal murid-murid ciptakan dan temukan dari hasil belajar di sekolah-sekolah yang megah dan menjulang tinggi itu ?

Iklan
Benarkah Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s